ramasnugraha

Ruang berbagi inspirasi kepemimpinan dalam dunia kerja, bisnis, dan kehidupan

Berkorban dalam Kepemimpinan

Posted by ramasnugraha pada September 17, 2012

by : Rama S Nugraha

(Dedicated untuk seseorang spesial yang tidak ingin disebutkan namanya dalam artikel ini. Thank you very much. U inspire my life)

“Bila anda ingin orang lain membantu dan mencintai anda, maka bantulah orang lain mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam hidup mereka!”

Benarkah ketika kita kebetulan dipercaya sebagai seorang pemimpin atau atasan, lalu kita berhak serta-merta menuntut dedikasi dan kerja keras dari bawahan atau pengikut kita? Ataukah kita harus membuktikan kepada setiap bawahan kita bahwa kita adalah sosok pemimpin yang layak untuk mereka ikuti sebagai pemimpin, sehingga mereka bersedia mendedikasikan diri mereka sepenuhnya sebagai pengikut dalam kepemimpinan kita?

Inilah hal pertama yang biasa saya ingatkan ketika memberikan coaching kepada para pemimpin di perusahaan klien saya. “Terkadang kita lupa bahwa posisi tidak dapat membeli kesetiaan!” Kepatuhan mungkin bisa kita dapatkan, namun untuk mendapatkan kesetiaan, dedikasi tinggi, kerja keras, seorang atasan membutuhkan usaha dan kesungguhan untuk membuktikan bahwa dirinya layak disebut pemimpin.

Lalu apa yang dapat anda lakukan untuk merubah status anda dari seorang atasan menjadi seorang pemimpin dalam organisasi? Karena dalam sebuah organisasi, atasan belum tentu dianggap sebagai pemimpin dalam organisasi!

1. Tunjukkan Pengorbanan Anda kepada Bawahan

Kadang bawahan ingin melihat atasannya bersusah-susah untuk membantu mereka. Mereka tidak ingin anda untuk mengerjakan pekerjaan mereka, apalagi mengambil alih pekerjaan mereka, mereka hanya ingin anda merasakan jam kerja yang sama ketika mereka harus mengambil over time ketika pekerjaan memerlukan waktu ekstra diluar jam kerja. Mereka ingin anda langsung mengkoreksi pekerjaan mereka ketika mereka melaporkannya kepada anda dan memberikan komentar anda, sudah baik atau ada koreksi yang perlu dilakukan, dan lain-lain

2. Selalu ADA bila dibutuhkan

Satu hal yang paling tidak disenangi bawahan adalah atasan yang tidak hadir untuk membimbing ketika mereka mengalami kesulitan dalam pekerjaan. Anda tidak harus selalu ada di kantor, namun pastikan anda harus selalu bisa dihubungi dan bersedia meluangkan waktu anda yang super sibuk untuk membimbing bawahan anda kapanpun mereka membutuhkan bimbingan anda. Lalu pastikan anda selalu hadir ketika masa-masa genting dan bersedia membela mereka ketika mereka melakukan kesalahan, karena bagaimanapun juga, kesalahan bawahan anda adalah TANGGUNG JAWAB anda sebagai pemimpin.

3. Perhatian melalui Pengembangan Kompetensi dan Apresiasi

Hal terakhir yang akan membuat bawahan anda merasa bangga karena memiliki pemimpin seperti anda sebagai atasan mereka adalah pada bagaimana anda mengenali kelebihan mereka lalu mengapresiasi secara layak dan mengetahui kekurangan mereka lalu anda bersedia mencurahkan sebagian dari waktu anda yang padat untuk mengembangkan kompetensi mereka untuk menutupi kekurangan bawahan sehingga kompetensi mereka bisa berkembang untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Bila tiga pengorbanan ini anda lakukan dalam kepemimpinan anda, maka yakinlah bahwa anda akan mendapatkan bawahan yang dengan bangga menyebut anda sebagai PEMIMPIN mereka dan menyebut diri mereka PENGIKUT anda. Inilah inti utama dari PRODUKTIVITAS, bagaimana anda mampu mengeluarkan kemampuan dan dedikasi terbaik dari setiap pengikut anda, sehingga mereka bisa tumbuh dan bermekaran lalu menjadi lebih indah dan kompeten di masa depan.

“Sebaik-baik pemimpin adalah mereka yang dicintai pengikutnya dan pengikutnya pun mencintainya. Pemimpin mendoakan pengikutnya, dan pengikutnya pun mendoakannya. Seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang membenci pengikutnya dan pengikutnya pun  membencinya. Pemimpin melaknat pengikutnya, dan pengikutnya pun melaknatnya!”

Semoga Bermanfaat

Rama S Nugraha. CEO of INSIGHT Power, Corporate Leadership Coach yang membantu perusahaan untuk memimpin dengan lebih produktif, Leadership Trainer, dan Pengarang Buku Bestseller “Jangan jadi PEMIMPIN sebelum BACA BUKU INI!”. Beliau dapat dihubungi melalui no +6221 4550 4990 atau email : insightpower@ymail.com

Posted in Uncategorized | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Berkata-kata yang Baik

Posted by ramasnugraha pada September 10, 2012

by Rama S Nugraha

Sebuah pepatah tua mengatakan bahwa :

“Apa yang kita ucapkan dan bagaimana kita mengucapkannya menunjukkan siapa diri kita dan kualitas diri kita sebenarnya!

Apakah anda termasuk pribadi yang meyakini pepatah tua di atas? Ataukah anda tipikal pribadi yang berpikir bahwa kata-kata itu sama sekali bukan cerminan dari siapa diri kita? Bila kita bertanya kepada pakar-pakar komunikasi tentang proses terciptanya kata-kata, maka kita akan menyadari bahwa kata-kata yang kita ucapkan itu sangat berhubungan dengan tingkat intelegensia atau kecerdasan ditambah luasnya pengetahuan yang dimiliki seseorang, dan ini memang benar tidak dapat dipalsukan.

Lalu apa hubungan antara kata-kata yang baik ini dalam kepemimpinan? Ketika kita berbicara tentang kepemimpinan, ternyata hanya ada tiga kualitas yang dinilai oleh setiap orang, apakah pemimpin ini layak untuk dipercaya dan diikuti ataukah tidak. Tiga kualitas itu adalah kecerdasannya dalam menyelesaikan tantangan, tindakan atau perilakunya, dan yang terakhir adalah kata-kata yang diucapkannya. Bahkan banyak kejatuhan wibawa dan integritas dari seorang pemimpin juga disebabkan oleh ketidakmampuan mereka mengatur kata-kata atau dalam bahasa profesionalismenya, komunikasi yang disampaikannya.

Contoh : Ketika kita melihat seorang bawahan kita melakukan sebuah kesalahan dan kesalahan itu termasuk kesalahan yang cukup fatal dan merugikan perusahaan, bagaimanakah cara anda berkomunikasi dengan bawahan anda ini? Apakah dengan marah atau menunjukkan rasa kecewa dalam komunikasi anda dapat menyelesaikan masalah dan membuat keadaan menjadi lebih baik? Ataukah anda mengkomunikasikan kejadian ini dengan kata-kata yang tegar, mengajaknya berdiskusi tanpa mengintimidasi dan menunjukkan kekecewaan anda, lalu mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan kekacauan yang sedang terjadi adalah solusi komunikasi yang lebih tepat? Saya percaya anda sudah mengetahui jawaban dari pertanyaan di atas.

Inilah yang nantinya akan membuat setiap pengikut akan menaruh hormat pada cara kepemimpinan anda. Berkata-kata yang baik, memotivasi, memberi masukan positif tanpa mengungkit-ungkit kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan pengikut di masa lalu, berusaha memahami topik permasalahan lalu memberi input positif tanpa menghakimi ketika bawahan melakukan kesalahan adalah bentuk-bentuk komunikasi yang di idam-idamkan oleh setiap pengikut dimanapun dari pemimpinnya. Inilah salah satu dari tiga faktor utama yang akan membuat anda menjadi pribadi yang dikagumi oleh pengikut anda sebagai pemimpin yang berwibawa dan layak untuk diikuti.

Semoga kita bisa menjadikan diri kita lebih baik dan bermanfaat dari hari ke hari dalam proses kepemimpinan kita dalam kehidupan ini. Teringat kata-kata dari sebuah iklan komersial di televisi beberapa tahun yang lalu bahwa : “Mulutmu Harimaumu” Inilah juga yang terjadi dalam kepemimpinan. Semoga komunikasi kita dapat menjadi pencerahan, motivasi, dan semangat bagi setiap pengikut kita dan bukannya menjadi sumber pembunuh semangat yang akan menjadikan mulut kita sebagai harimau yang akan menerkam wibawa kepemimpinan kita.

Semoga Bermanfaat

Rama S Nugraha. CEO of INSIGHT Power, Corporate Leadership Coach yang membantu perusahaan untuk memimpin dengan lebih produktif, Leadership Trainer, dan Pengarang Buku Bestseller “Jangan jadi PEMIMPIN sebelum BACA BUKU INI!”. Beliau dapat dihubungi melalui no +6221 4550 4990 atau email : insightpower@ymail.com

Posted in Uncategorized | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Efek Networking dalam Kepemimpinan

Posted by ramasnugraha pada September 6, 2012

By : Rama S Nugraha

Minggu ini saya bertemu dengan  dua orang sahabat yang berbeda, keduanya memiliki posisi yang sama-sama tinggi di dalam perusahaan, Vice President, dan sama-sama di perusahaan berplat merah, namun kedua sahabat saya ini ternyata memiliki sifat yang sangat bertolak belakang.

Sahabat A adalah sahabat yang terbentuk menjadi seseorang yang mudah marah, berpikiran sempit, wajahnya terlihat penuh dengan permasalahan, topik yang senang didiskusikannya hanyalah masalah di dalam pekerjaannya. Ia bercerita betapa ia kurang puas dengan atasannya, rekan kerjanya, dan kurangnya kompetensi dari bawahan yang dimilikinya sehingga pada akhirnya ia sering over time untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Sedangkan sahabat B adalah sahabat yang sangat periang. Ketika awal bertemu saja sudah terlihat energi kebahagiaan terpancar dari raut wajahnya. Ia bercerita tentang banyak hal mulai dari tantangan-tantangan dan impian masa depan bagi dirinya dan orang-orang yang ia pimpin, betapa ia merasa banyak punya waktu luang, sempat menulis sebuah buku dan berencana untuk menyusun buku keduanya, sampai berdiskusi tentang kondisi negara saat ini dan bagaimana membenahinya menurut logika pemikirannya.

Pada kesempatan ini, saya tidak akan membahas tentang suasana atau budaya kerja di kantor masing-masing dari kedua sahabat saya ini, namun saya lebih tertarik untuk meneliti sisi luasnya persahabatan atau networking yang dimiliki oleh kedua sahabat saya ini. Saya yakin anda sudah bisa menebak isi dari bahasan saya ini bukan?

Benar sekali, ternyata sahabat A saya ini, setelah saya lakukan eksplorasi lebih dalam, persahabatan yang dimilikinya hingga saat ini hanyalah sekedar di tempatnya bekerja, bekas tempatnya bekerja, dan keluarganya. Ia ahli dalam melakukan pekerjaannya namun keahliannya hanya terbatas pada profesi yang sedang ia jalani. Sedangkan sahabat B saya ini, memiliki sahabat yang sangat variatif, mulai dari rekan kerjanya, sahabat-sahabat di masa mudanya, relasi-relasi baru, ikut dalam berbagai aktivitas sosial, aktif di organisasi alumni, organisasi kemasyarakatan, bahkan sempat bergabung dalam organisasi politik yang meskipun akhirnya ia tinggalkan karena kesibukan yang tidak memungkinkan.

Ternyata pergaulan, relasi, networking yang kita lakukan sangat membentuk kepribadian kita saat ini. Pepatah mengatakan bahwa “Bila anda ingin mengetahui siapa diri anda, maka lihatlah 5 sahabat terdekat anda” atau dalam sebuah hadist di dalam agama saya disebutkan “Barangsiapa bergaul dengan tukang minyak wangi maka akan berbau harum, dan barangsiapa bergaul dengan tukang pandai besi, maka akan ikut terpercik api”. Pergaulan atau networking kita sangat menentukan kepribadian kita sebagai pemimpin.

Menurut anda, manakah diantara kedua sahabat saya ini yang akan memiliki kepemimpinan yang lebih baik di tempat kerjanya? Manakah menurut anda yang memiliki kehidupan yang lebih bahagia? Karena kepemimpinan itu adalah tentang bagaimana kita mencontohkan keteladanan dalam perilaku kita sehari-hari, menurut anda manakah diantara kedua sahabat saya ini yang akan menjadi pemimpin yang lebih produktif dan dicintai oleh pengikutnya?

Jadi pertanyaannya saat ini adalah, tipikal seperti apa yang ingin anda jalani dalam kehidupan pribadi dan karir anda? Apakah anda bahagia dengan menjadi seperti sahabat A ataukah anda berpikir untuk menjadi seperti sahabat B? Pilihannya saat ini ada di tangan anda, karena sesungguhnya lingkungan kantor anda, terbatasnya waktu anda, kesibukan anda, bukanlah sebuah alasan yang menghalangi anda untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik.

Semoga Bermanfaat

Rama S Nugraha. CEO of INSIGHT Power, Corporate Leadership Coach yang membantu perusahaan untuk memimpin dengan lebih produktif, Leadership Trainer, dan Pengarang Buku Bestseller “Jangan jadi PEMIMPIN sebelum BACA BUKU INI!”. Beliau dapat dihubungi melalui no +6221 4550 4990 atau email : insightpower@ymail.com

Posted in Uncategorized | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Integritas Kepemimpinan

Posted by ramasnugraha pada September 5, 2012

By Rama S Nugraha

Dalam setiap kesempatan, sering kita dengar nasihat bahwa seorang pemimpin harus memiliki integritas. Pertanyaannya saat ini adalah : “Apakah yang disebut sebagai integritas?” Bila kita tilik dalam kamus bahasa indonesia, salah satu arti dari kata integritas adalah kejujuran, lalu sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi yang memancarkan kewibawaan. Jadi bila ditarik sebuah benang merah, maka tujuan dari integritas disini adalah segala macam sifat yang memancarkan kewibawaan sehingga seorang pemimpin itu dihormati, diakui, dan diikuti sebagai seorang pemimpin.

Lalu pertanyaannya saat ini adalah : “Sifat atau perilaku apa yang bisa membuat seorang pemimpin dikategorikan berwibawa?” Apakah cukup hanya dengan jujur lalu seorang pemimpin dapat dikategorikan memiliki integritas? Inilah beberapa sikap yang saya temui dapat membuat seorang pemimpin berwibawa dalam kepemimpinannya :

1. Keyakinan yang kuat pada visi masa depannya

Memiliki visi yang kuat saja tidaklah cukup ketika kita ingin menjadi pemimpin yang berwibawa. Kita harus memiliki keyakinan yang kuat pada visi yang kita bagikan, sehingga setiap bawahan memiliki keberanian untuk meyakini visi kita dengan melihat besarnya keyakinan kita.

2.Melakukan apa yang diucapkan.

Orang-orang menyebutnya dengan Walk The Talk, melakukan apa yang telah diucapkan. Disinilah penilaian utama dari seorang pemimpin, apakah layak untuk dipercaya ataukah hanya termasuk golongan yang NATO (No Action Talk Only).

3.Menjadi Pribadi Penolong

Sebelum kita berharap untuk dihormati, maka kita harus menghormati terlebih dahulu. Inilah aturan utama dalam kehidupan, dan begitu juga dalam kepemimpinan. Sebelum anda berharap setiap bawahan anda rela memberikan 100% kemampuan dan usaha mereka, pastikan mereka dapat melihat dan merasakan bahwa anda adalah pemimpin yang 100% siap berkotor-kotor dalam menolong dan melatih mereka menjadi pribadi dan bawahan yang lebih hebat dalam kepemimpinan anda.

4. Bertanggung Jawab dalam setiap situasi

Salah satu kualitas kepemimpinan yang dicintai oleh bawahan adalah mereka tahu apapun kreatifitas, inovasi, dan pembaharuan yang mereka usahakan, pemimpin mereka tidak akan meninggalkan mereka atau cuci tangan bila seandainya terjadi kesalahan dalam usaha mereka. Inilah tanggung jawab yang sangat diharapkan dari seorang pemimpin. Seperti kata salah seorang sahabat saya yang kebetulan memiliki posisi direktur di tempat kerjanya : “Silahkan berinovasi, selama itu dapat dipertanggung jawabkan, maka jangan takut untuk mencoba. Bila merasa bingung, tanyalah pada saya. Bila terjadi kesalahan, maka saya akan tanggung kesalahan anda. Jadi bekerjalah dengan giat untuk memajukan perusahaan kita!” Maka saya tidak heran, di usianya 36 tahun, ia sudah dipercaya untuk menjadi direktur di tempatnya bekerja.

Inilah sebagian kualitas integritas dalam kepemimpinan yang akan membuat anda memancarkan kewibawaan dalam kepemimpinan anda. Lakukan kualitas perilaku ini, maka anda akan diakui sebagai seorang pemimpin yang memiliki integritas dalam kepemimpinan.

Semoga Bermanfaat

Rama S Nugraha. CEO of INSIGHT Power, Corporate Leadership Coach yang membantu perusahaan untuk memimpin dengan lebih produktif, Leadership Trainer, dan Pengarang Buku Bestseller “Jangan jadi PEMIMPIN sebelum BACA BUKU INI!”. Beliau dapat dihubungi melalui no +6221 4550 4990 atau email : insightpower@ymail.com

Posted in Uncategorized | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Prasangka dan Kepemimpinan

Posted by ramasnugraha pada September 4, 2012

by : Rama Nugraha

“Wahai orang-orang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain…..” (49:12)

Salah seorang klien saya di perusahaan PMA pernah menanyakan kepada saya : “Pak, mengapa susah sekali saya mendidik bawahan saya yang satu ini? Orangnya suka ngebantah, terus kalau enggak tahu enggak pernah tanya, pokoknya enggak selesai saja pekerjaannya. Kalau diajarin diem, ditanya apa ada pertanyaan, jawabannya enggak. kalau disuruh buat, eh enggak bisa. Wah, payah deh pak!”. Pernahkah anda mengalami hal seperti ini sahabat?

Untuk menjawab pertanyaan seperti ini, saya menjawabnya dengan sebuah pertanyaan : “Lalu menurut bapak, apa bawahan bapak ini masih bisa di bina atau seharusnya dibinasakan?” dan beliau menjawab : “Sejak awal saya sudah tidak yakin, masuknya beliaupun karena kebijakan manajemen. Sudah sejak 6 bulan yang lalu saya sudah meminta dia diganti, namun HRD tidak menanggapi.” Saya hanya menjawab “Oh, pantes!”. Sang Manager inipun bingung menanggapi kesederhanaan tanggapan saya.

Sadarkah kita sahabat, bahwa sering dalam kehidupan ini kita bersikap subyektif? Memang subyektif merupakan sebuah hal yang alamiah, seperti ketika kita memilih teman, memilih pasangan, memilih partner bisnis, dan banyak pilihan-pilihan subyektif lainnya. Tidak ada yang salah dalam ke-subyektif-an, namun yang menjadi permasalahan disini adalah apakah kesubyektifan kita membunuh kesempatan orang lain atau tidak?

Ketika kita menyukai seseorang, maka apapun yang mereka ucapkan pasti merupakan sebuah kebenaran, atau minimal kita tidak mencurigainya sebagai sebuah kebohongan terlebih dahulu. Namun bagaimana bila yang berbicara adalah seseorang yang kita benci, tidak disukai, atau yang menurut kita, orang yang tidak bisa dipercaya? Apakah kita masih menganggapnya sebagai sebuah kebenaran dan minimal tidak mencurigainya terlebih dahulu? Meskipun terkadang yang diucapkannya sebuah kebenaran.

Inilah fenomena yang terjadi dalam kepemimpinan. Ada pemimpin yang sangat mampu mendidik siapapun yang diberikan kepadanya, namun ada juga pemimpin yang tebang pilih, tidak semua orang bisa dididiknya. Apa yang membedakannya?

Satu fakta yang saya temukan adalah bahwa pemimpin yang mampu melatih siapapun biasanya menggunakan basis prasangkaan 0 (nol) atau + (positif) terlebih dahulu ketika menghadapi setiap orang. Pelajaran ini saya dapatkan berdasarkan pengalaman pribadi saya melatih para pemimpin, manager, General Manager, Vice President, sampai dengan Director. Ketika saya berpikir bahwa orang yang saya latih tidak mampu, basis prasangka – (negatif), maka bisa dipastikan bahwa proses pelatihan (coaching)yang kita adakan biasanya tidak membuahkan sebuah hasil yang positif. Lain halnya ketika saya mendapati orang yang saya latih baik, basis prasangka 0 (nol) atau + (positif), maka dari target 6 bulan perubahan perilaku, hanya dalam 2 bulan telah terjadi perubahan yang signifikan dalam perubahan perilaku beliau.

Darisanalah saya menemukan, sebenarnya kesalahan bukan terletak pada orang yang kita latih, namun lebih kepada bagaimana kita sebagai seorang pemimpin melatih pengikut kita. Ketika pandangan kita negatif, kita cenderung memperlakukan pengikut kita secara negatif, menilai secara negatif, sehingga hal positif apapun tidak akan tampak. Tidak ada pengikut yang bekerja dengan baik bila dirinya selalu dianggap tidak mampu atau diragukan sebelum melakukan sesuatu. Mungkin anda akan mengatakan, “Saya memperlakukannya sama Pak dengan pengikut-pengikut yang lain”. Saya akan menjawabnya dengan sebuah pertanyaan “Apakah rasa percaya anda sama antara orang yang anda percayai dan yang tidak?”. Gerak tubuh anda akan selalu mengikuti isi hati anda. Inilah yang ditangkap oleh pengikut anda.

Jadi pada kesempatan ini, saya ingin mengajak, siapapun pengikut anda saat ini, kalibrasilah selalu prasangka anda terhadapnya. jadikan prasangka itu 0 (nol) atau + (positif), sehingga anda bisa menangkap kelebihan mereka dan lebih memahami cara mendidik mereka.

Berprasangka baik akan menciptakan kebaikan, dan prasangka buruk hanya akan menimbulkan keburukan. Dalam kehidupan, setiap hal dimulai dengan prasangka. Inilah yang setiap orang sebut dengan persepsi.

Semoga Bermanfaat

Rama S Nugraha. CEO of INSIGHT Power, Corporate Leadership Coach yang membantu perusahaan untuk memimpin dengan lebih produktif, Leadership Trainer, dan Pengarang Buku Bestseller “Jangan jadi PEMIMPIN sebelum BACA BUKU INI!”. Beliau dapat dihubungi melalui no +6221 4550 4990 atau email : insightpower@ymail.com

Posted in Uncategorized | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Mengapa Seorang Pemimpin Diikuti?

Posted by ramasnugraha pada September 3, 2012

Ini adalah sebuah pertanyaan klasik yang sering saya tanyakan pada klien coaching saya. Menurut anda “Mengapa anda sebagai seorang pemimpin harus diikuti oleh bawahan dan orang-orang di sekeliling anda?”. Sebuah pertanyaan yang biasanya akan membuat orang yang ditanya tertegun dan mulai berpikir “Oh ya, bener juga ya? Selain karena saya adalah atasan mereka atau orang yang bisa membantu karir mereka, mengapa mereka harus mengikuti saya?”

Banyak saya temui di dalam dunia kerja dan bisnis, orang sangat memfokuskan dirinya pada how to make the job done, bahkan sampai-sampai sebagian dari mereka menghalalkan segala cara seperti menekan bawahan atau mengambil pekerjaan yang seharusnya tidak diambil oleh seorang pimpinan, hanya untuk terlihat mampu menyelesaikan pekerjaannya. Apakah hal ini salah? TIDAK bila hal ini dilakukan hanya sesekali, SALAH bila tindakan ini dilakukan berkali-kali.

Lalu, apa yang harus kita lakukan agar mampu menjadi Respected Leader sekaligus mengamankan terselesaikannya tugas kerja kita sebagai seorang pemimpin? Disini saya akan bagikan 3 tips sederhana kepada anda, yang bila anda lakukan, akan menghasilkan result yang sangat luar biasa dalam kepemimpinan anda :

1. Fokuslah pada Attitude yang Baik

“Sikap itu jauh lebih manjur daripada kata-kata”. Bila anda ingin menjadi pemimpin yang tidak hanya diikuti lantaran anda adalah atasan bagi bawahan anda, milikilah sikap yang bisa menjadi teladan bagi bawahan dan rekan-rekan kerja di sekeliling anda. Sikap baik yang bagaimanakah yang harus anda miliki? Inilah jawaban dari pertanyaan anda : “Atasan ideal seperti apakah yang sebenarnya ingin anda miliki untuk menunjang kerja anda dan membuat anda bahagia dalam bekerja di kantor anda saat ini?” Jawaban dari pertanyaan inilah, jawaban yang anda cari untuk menjadi pemimpin dengan attitude yang baik dalam menjalankan kepemimpinan.

2. Jadilah MENTOR dan atau COACH yang baik bagi bawahan anda

Tugas utama seorang pemimpin sejatinya adalah mendidik bawahan anda sehingga pada akhirnya mereka bisa memiliki kemampuan minimal persis sama seperti apa yang anda mampu. Jadi bila saat ini anda mengatakan bahwa bawahan anda tidak capable, berarti sebenarnya anda sedang membicarakan diri anda sendiri yang tidak mampu mendidik bawahan anda. Pelajari cara-cara yang benar dalam menjadi MENTOR atau COACH dalam kepemimpinan sehingga bawahan anda mampu menjadi pribadi yang capable dan mampu menyelesaikan tugas kerja yang anda berikan sehingga anda dapat benar-benar menjalankan fungsi kepemimpinan anda yaitu MEMIMPIN!

3. Berdayakan Bawahan Anda

Isu utama yang sering membuat seorang pemimpin disibukkan oleh tugas-tugas bawahannya adalah ketidakpercayaannya terhadap kemampuan bawahan dan kurangnya kontrol dalam mengawasi pekerjaan dari bawahan sehingga pada akhirnya pekerjaan bawahan anda salah dan harus anda selesaikan sendiri. Berikan pekerjaan pada bawahan yang anda anggap mampu, latih mereka yang menurut anda belum mampu sehingga pada akhirnya mereka menjadi mampu dalam menyelesaikan tugas kerja yang anda tugaskan, dan terakhir terapkan fungsi kontrol yang rutin selama pengerjaan tugas kerja. Ajak mereka berdiskusi tentang tugas yang anda berikan di tengah-tengah proses mereka mengerjakan tugas kerja mereka, selain ini membantu pengerjaan tugas mereka, karena mereka bisa bertanya tentang beberapa hal yang mungkin mereka masih bingungkan, sekaligus ini dapat membuat anda membenarkan tugas mereka seandainya ada beberapa hal yang menurut anda sudah keluar dari jalurnya.

Inilah 3 hal sederhana yang bisa anda lakukan bila anda benar-benar ingin diikuti sebagai seorang pemimpin. “Tidak ada murid yang lupa pada jasa gurunya!” Bila anda sudah dianggap sebagai orang yang berjasa dalam karir dan kompetensi bawahan anda, maka sampai kapanpun mereka akan menghormati anda dan nama anda akan selalu diingat sebagai sosok pemimpin dalam kehidupan mereka

Semoga Bermanfaat

Rama S Nugraha. CEO of INSIGHT Power, Corporate Leadership Coach yang membantu perusahaan untuk memimpin dengan lebih produktif, Leadership Trainer, dan Pengarang Buku Bestseller “Jangan jadi PEMIMPIN sebelum BACA BUKU INI!”. Beliau dapat dihubungi melalui no +6221 4550 4990 atau email : insightpower@ymail.com

Posted in Uncategorized | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Leadership Training AJB. Bumiputera 1912

Posted by ramasnugraha pada Agustus 31, 2012

Posted in Uncategorized | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

MENEPATI JANJI

Posted by ramasnugraha pada Agustus 31, 2012

by : Rama S. Nugraha

Menepati janji merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran kepemimpinan. Sebuah hal yang sering dianggap remeh oleh banyak pemimpin, namun merupakan salah satu perusak yang paling sering saya temukan dalam menciptakan rasa percaya terhadap seorang pemimpin.

Sebagai seorang manusia, terkadang kita berpikir bahwa adalah sebuah kewajaran ketika kita lupa dalam menepati apa yang telah kita ucapkan. Kita juga tidak menganggap hal ini sebagai suatu hal yang besar, karena merupakan, sekali lagi, sebuah kewajaran sebagai insan manusia. Namun sadarkah kita, mungkin sebuah ucapan atau janji yang kita anggap remeh untuk diri kita,sendiri mungkin merupakan sebuah pengharapan atau penentu bagi kehidupan seseorang? Bahkan hal ini pulalah yang dijadikan penilaian dari pengikut atau bawahan di dalam organisasi untuk menilai diri kita, apakah kita layak disebut sebagai pemimpin yang pantas dipercaya.

Dalam workshop dan coaching yang saya lakukan di perusahaan-perusahaan, seringkali saya mendapat sebuah pertanyaan yang sangat sederhana tentang kepemimpinan. Kira-kira bila di generalisir, pertanyaannya akan seperti ini, “Pak Rama, apa sih sebenarnya yang membedakan seorang pemimpin sehingga mereka bisa dikagumi dan diikuti oleh banyak orang?”. Saya selalu memulainya dengan mengajukan sebuah pertanyaan balik : “Karena hal ini sangat manjur, ketika saya membagikannya kepada anda, apakah anda bersedia untuk melakukannya?” dan ketika mereka menjawab dengan jawaban “Iya, saya bersedia!” Maka saya lanjutkan hanya dengan 2 jawaban sederhana.

1. Fokuskan perhatian anda pada menciptakan pengikut-pengikut yang pasti mampu menggantikan anda. Berarti anda perlu melatih kemampuan atau skill mereka, menggembleng mental mereka, memotivasi mereka, dan memperjuangkan hak (mereferensikan) mereka ketika mereka layak untuk dipromosikan.
2. Pastikan anda menepati apapun ucapan atau janji yang pernah anda sampaikan. Jadilah pemimpin yang Walk-The-Talk.

Bila 2 hal ini selalu anda lakukan, maka tidak akan ada pengikut yang tidak setia dengan kepemimpinan anda. Inilah sebenarnya inti dari Hi-Performance Workplace.

Semoga Bermanfaat

Rama S Nugraha. CEO of INSIGHT Power, Corporate Leadership Coach yang membantu perusahaan untuk memimpin dengan lebih produktif, Leadership Trainer, dan Pengarang Buku Bestseller “Jangan jadi PEMIMPIN sebelum BACA BUKU INI!”. Beliau dapat dihubungi melalui no +6221 4550 4990 atau email : insightpower@ymail.com

Posted in Uncategorized | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Hello world!

Posted by ramasnugraha pada Agustus 17, 2012

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment »